Senin, 08 Oktober 2018

# Content Placement # featured

Nyaman menggunakan transportasi umum



Perempuan selalu saja dihadapkan dengan ancaman di manapun mereka berada, bahkan di tempat ramai seperti transportasi umum pun ada.

Selalu saja perempuan dianggap sebagai makhluk lemah yang tak berdaya untuk dijadikan objek pelecehan fisik (physical harassment). Terkadang menjadi sumber utama mereka tidak nyaman bepergian sendiri. Apalagi naik transportasi umum.


Dari artikel Magdalene.co, hasil studi audit keamanan di tiga wilayah Jakarta yang dilakukan oleh Badan PBB untuk kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan (UN Women) menunjukkan bahwa perempuan dan anak perempuan tidak merasa aman untuk bepergian sendiri, terutama di ibukota. karena lebih rentan menjadi korban pelecehan dan kekerasan seksual di tempat umum, termasuk transportasi publik ih serem ya..

Sebuah jajak pendapat yang digagas Thomson Reuters Foundation News menceritakan ada 16 kota dengan sistem transportasi paling berbahaya untuk perempuan. Bayangkan saja ada 16 kota yang masih rawan semoga salah satunya bukan daerah tempat aku tinggal! Survei terhadap lebih dari 6.550 perempuan, pakar gender dan perencanaan kota digelar di 15 dari 20 ibukota terbesar dunia.


Pertanyaan ini ditanya langsung pada mereka yang bepergian sendiri di malam hari tentunya termaksud aku pun pernah sih tak berani pergi malam atau pulang malam  jika sendirian saja. Resiko banget secara verbal atau fisik.

 Masih ragu sih untuk aku sendiri percayakan bahwa penumpang lain akan membantu seorang perempuan jika dilecehkan, percaya bahwa pihak berwenang akan menyelidiki laporan tentang pelecehan atau kekerasan, dan ketersediaan transportasi umum yang aman. Memang akan dikasuskan jika ketahuan ada pelaku pelecehan. Sempat sih di transportasi umum seperti bus memang sudah ada pembagian seperti bagian depan dikhususkan untuk penumpang perempuan.


Jakarta mendapat urutan ke lima dari daftar 16 kota dengan sistem transportasi paling berbahaya untuk perempuan versi Thomson Reuters Foundation News.

Berikut ulasannnya :
Seberapa kamu merasa aman bepergian sendiri pada malam hari di kota tempat tinggal kamu?


Apakah kamu pernah dilecehkan secara verbal oleh laki-laki saat gunakan transportasi umum?


Apakah kamu pernah diraba atau mengalami bentuk pelecehan fisik lain saat menggunakan transportasi umum?


Seberapa yakin kamu bahwa orang lain akan datang membantu kamu saat ada di transportasi umum?


Seberapa yakin kamu jika pihak berwenang akan menyelidiki jika kamu melaporkan pelecehan atau serangan di transportasi umum?


Setuju atau tidak setuju, transportasi umum yang aman tersedia di tempat kamu tinggal?


Dari data di atas menimbulkan keresahan yang cukup serius bagi kaum perempuan. Maka, solusi untuk pencegahan pelecehan dan kekerasan di transportasi umum ialah pemisah antara laki-laki dan perempuan. Seperti yang aku naikkan untuk perempuan dibagian depan sedangkan laki dibelakang.


Pada tahun 2011, operator bus Transjakarta meluncurkan fasilitas ruang khusus perempuan. Sebelum menerapkan kebijakan itu, PT Transjakarta sudah melakukan survei terhadap penumpang perempuan. Hasil survei menunjukkan, 90% responden menyetujui implementasi kebijakan tersebut.  Lima tahun kemudian, pada 21 April 2016, bertepatan dengan hari Kartini, perusahaan ini meluncurkan bus berwarna merah muda yang dikhususkan bagi penumpang perempuan.


Direktur Operasional Transjakarta, Daud Joseph, penyediaan ruang khusus perempuan di transportasi publik itu sangatlah penting, mengingat banyaknya laporan-laporan perihal pelecehan dan kekerasan di transportasi umum terhadap kaum perempuan. Menurut surveinya, pelecehan seksual sebagian besar terjadi pada jam-jam sibuk. Benar banget nih saat lagi orang-orang sedang berangkat kerja atau pulang kerja otomatis kan penuh dan sesak saat berada didalam bus.


Pada awal 2017, jumlah bus bertambah menjadi 1200,  empat kali lipat dari jumlah bus satu setengah tahun yang lalu yaitu sekitar 300 bus. Berarti ada lebih banyak kesempatan bagi para perempuan merasa nyaman di dalam bus. Alhamdulilah!


Kereta Listrik Jabodetabek atau yang lebih kita kenal dengan sebutan Commuter Line, bahkan sudah lebih dulu menerapkan gerbong khusus perempuan. Kurang lebih tujuannya sama dengan penerapan hal serupa pada Bus TransJakarta.


Di berbagai negara kebijakan segregasi dianggap sebagai satu langkah awal adanya kesadaran bahwa akses perempuan ke transportasi publik memang sulit karena mereka rentan mengalami pelecehan dan kekerasan.


Dengan pemisahan dianggap sebagai solusi cepat, walaupun bukan satu-satunya.


Karena pelecehan dan kekerasan terhadap perempuan itu terjadi bukan hanya karena infrastruktur yang kurang, tapi karena adanya pendekatan hukum dan kebijakan yang tidak mengatur penanganan (korban pelecehan dan kekerasan).

Korban juga tidak mau melaporkan karena takut disalahkan dan tidak tahu mekanisme pelaporannya atau pun merasa malu. karena itu, baik laki-laki maupun perempuan, harus lebih resposif dan menjadi active bystander dan tidak diam saja ketika melihat pelecehan atau kekerasan seksual yang terjadi. Ini sih yang aku paling sebal kalau ada hal semacam pelecehan kebanyakan penumpang lain pada diam.


Pemisahan gender di transportasi publik adalah solusi yang baik untuk meningkatkan rasa aman dan nyaman, tapi sifatnya sementara. Untuk mencapai semua itu perlu perempuan dan laki-laki, ada terminologi temporary special measure (tindakan khusus sementara), yang seolah-olah mengeksklusifkan perempuan, tapi tidak boleh dianggap sebagai diskriminasi karena ada hal yang melatarbelakanginya.


Kementerian Perhubungan melalui Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek sangat konsen pada kenyamanan di transportasi publik, termasuk di dalamnya perhatian khusus pada perempuan dan manula. Setuju banget lah ada ruang untuk perempuan, manula, dan ibu hamil serta membawa balita.

Kenapa sih penting, karna target memindahkan orang dari penggunaan kendaraan pribadi ke kendaraan umum, merupakan hal yang mendesak. Tentu kita tahu, kendaraan pribadi memang berkontribusi besar pada kemacetan di Jakarta. Sampai mengeluh sih aku kapan ya tak akan macet gitu!


Nah, bersama-sama yuk kita ciptakan transportasi umum yang aman dan nyaman untuk kita (perempuan) dengan memanfaatkan infrastruktur transportasi umum yang ada. Dengan begitu kita sudah membantu pertumbuhan ekonomi Indonesia dan mengurangi kemacetan.

Jangan sungkan atau malu untuk menegur pelaku saat anda mendapati melihat adanya pelecehan atau kekerasan seksual, pisahkan pelaku dari korban dan jangan ragu untuk melaporkan pelaku kepada petugas. Ayo naik bus! Kalau perlu jika tak ada petugas didalam bus atau commuter Line kita bisa berteriak atau saling bersama-sama menegurnya. Ini yang sudah kulakukan saat melihat adanya bentuk tindak pelecehan seksual dalam transportasi umum.

Lagi pula jika seluruh transportasi umum aman dan nyaman so pasti, Jakarta bebas dari kemacetan karena seluruh warga menggunakan layanan publik.

Ayo naik Bus
Ayo naik Bus
Ayo naik Bus

🚌🚌🚌

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

terima kasih sudah main-main di blogku! dilarang copy paste dan spam.