Minggu, 07 Oktober 2018

# family # featured

Hari kesehatan jiwa sedunia


Setiap orang dewasa pasti pernah melewati masa remaja, dimana saat itu ego yang sangat berperan penting dalam kehidupan. Termaksud aku sendiri pun begitu, ingin mengetahui banyak hal yang baru dan susah untuk menerima pendapat oranglain atau nasihat orangtua.

Masa remaja buat aku sih memang indah dimana saat itu proses membentuk jati diri pun di mulai. Tepat di tanggal 10 Oktober nanti diperingati sebagai hari kesehatan jiwa se-dunia (HKJS).

Lalu apa hubungannya dengan masa remaja? Yap melalui hari kesehatan jiwa se-dunia ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran seluruh warga dunia akan pentingnya kesehatan jiwa.

Agar masyarakat sekaligus anak remaja pun dapat sehat fisik dan jiwanya.  Untuk tahun ini World Federation of Mental Health (WFMH). Fokus perayaan HKJS pada generasi muda.

Jadi sekarang bagaimana dengan kesehatan jiwa diri kita sendiri apakah baik baik saja, dan untuk anak remaja kalian pun harus sehat ya baik mental mau pun fisiknya. Karena kita tahu zaman sekarang ini berubah hal yang ditakutkan oleh para orang-tua ketika anak remaja ini menjadi pribadi yang suka murung, mudah marah, dan tidak kembali ceria. Tentu kita sebagai orangtua harus memberikan support pada anak.

Mental health is now the biggest concern identified by 15 - 19 years olds

Temu blogger 4 Oktober kemarin  bersama Kemenkes RI memberikan informasi mengenai kesehatan jiwa. Hadir Ibu Eka Viora ketua umum perhimpunan Dokter Specialis Kedokteran Jiwa Indonesia.


Beliau menjelaskan determinasi kesehatan jiwa dimana masa remaja. Merupakan periode penting untuk memperkembangkan kehidupan sosial dan juga emosional. Bukan cuma itu saja dari pola anak tidur bagaimana, apakah sehat atau justru kebanyakan begadang.  Mempunyai keterampilan untuk mengatasi setiap masalah dan mengelola emosi.

Buat aku untungnya belum ada anak remaja namun memiliki keponakan di usia pra remaja layaknya aku sebagai Bude nya pun patut tahu dan memantau apa saja yang ia kerjakan di sekolah atau dirumah.

Jangan sampai masa remaja malah mengalami adiksi seperti adiksi pornografi, adiksi gadget, adiksi perilaku, adiksi kejiwaan. Ingat saat kita berkumpul bersama dalam satu ruangan disitu ada Ayah, Bunda, dan anak-anak. Stop pegang gadget kalau bisa berikan jadwal dimana saat berkumpul tidak ada yang boleh memegang smartphone atau melakukan aktivitas teknologi. Dengan cara seperti ini aku rasa hubungan keluarga akan baik dan anak-anak akan mendapatkan perhatiannya.

Kiri ke kanan : Dr. Eka , Dr.Anung Sugihantono, M.Kes, moderator


Saat acara temu blogger pun kami seluruh blogger melakukan aksi live tweet dimana tujuannya tidak lain memberikan informasi melalui sosial media kepada semua pengikut kami, agar seluruh remaja di Indonesia tahu akan kesehatan jiwanya.

Dan nantinya juga Kemenkes RI akan ada serangkaian acara kegiatan HKJS 2018 seperti nanti pada 16 Oktober 2018 akan ada gelar wicara dengan pelajar dan dilanjutkan gelar pameran.

Untuk data bullying di sekolah , Kemenkes RI mendapatkan beberapa data seperti berikut ;
84% siswa mengaku pernah mengalami kekerasan di sekolah
45% siswa laki-laki menyebutkan bahwa Guru atau petugas sekolah merupakan pelaku kekerasan
40% siswa usia 13-15 tahun melaporkan pernah mengalami kekerasan fisik oleh teman sebaya
75% siswa mengakui pernah melakukan kekerasan di sekolah
22% siswa perempuan menyebutkan bahwa Guru atau petugas sekolah merupakan pelaku kekerasan
50% anak melaporkan mengalami perundungan (bullying) di sekolah.

Di sisi lain juga ada lho konseling untuk pra nikah , nih sebelum menikah bisa konsultasi dengan dokter Kesehatan jiwa,  untuk Ibu hamil pun bisa seperti deteksi dini dan stimulasi janin dalam kandungan.











Tidak ada komentar:

Posting Komentar

terima kasih sudah main-main di blogku! dilarang copy paste dan spam.