05/04/19

eksploitasi anak ada pada iklan rokok yang terselubung dalam audisi bulutangkis



Pak, dede mau ikutan audisi beasiswa badminton boleh ga pak? Tanya saya saat itu pada orangtua mengenai audisi badminton. Tujuan saya waktu itu ingin sekali berkontribusi untuk sekedar mengembangkan bakat yang saya miliki. Ya, ketika itu saya menginjak usia 15 tahun duduk dibangku smp. Saat itu saya tak ada televisi maupun radio. Yang saya lihat iklan itu tercetak di media koran yang suka bapak saya beli setiap hari.

Saya lihat pengumuman besar terpapang di halaman pertama dan saat itu hanya ada di kota kudus untuk sesi audisinya. Mau lolos atau ga waktu itu saya berpikir yang penting bisa berada ditempat yang pas untuk memantapkan bakat saya. Namun, karena lagi-lagi tak dapat izin oleh kedua orangtua saya dikarenakan jarak audisi yang begitu jauh dari tempat saya tinggal. Akhirnya saya tutup rapat niat saya untuk mengikuti ajang audisi beasiswa badminton.

Sampai saat saya sudah dewasa seperti ini dan menjadi orangtua kalau melihat atlet Indonesia bertarung di kejuaraan badminton rasanya “coba waktu itu diberi izin pasti saya ada ditengah stadion itu dan membela nama Indonesia” hihihi! Memang saya suka dengan badminton ketertarikan saya karena sangat menantang dan moment paling seru itu saat melaukan smash!

Tapi disini saya bukan mau cerita soal masa lalu saya yang penuh kenangan indah itu, namun hati ini terketuk saat ada panggilan dari Lentera Anak. Yang menyinggung adanya Eksploitasi Anak pada saat digelarnya audisi badminton. Hmm.... memangnya apa sih yang dibahas, apakah masalah mengenai jam terbang dari latihannya? Menurut saya kalau soal fisik mau di olahraga mana pun pasti dituntut untuk lebih keras lagi dalam berlatih. Aapalagi yang kita tahukan BADMINTON ini merupakan olahraga yang selalu memberikan prestasi membanggakan untuk Indonesia. Namun bukan berarti olahraga lain ga ya.

Rupanya ada begitu banyak eksploitasi dari ajang audisi badminton yang tiap tahun dilaksanakan ini.
Kenyataanya berbeda dari tahun ke tahun, Tahun 2015 audisi badminton memperluas di berbagai kota di Indonesia. Lalu memasuki tahun 2017 audisi ini dijaring lebih muda lagi yang tadinya batas usia maksimal 15 tahun, namun justru usia 6 tahun boleh ikut audisi.

Iklan Berjalan, menggunakan tubuh anak untuk promosi sebuah brand dari ajang audisi bulutangkis


Saya pernah saat cfd di hari minggu itu mengikuti senam dan zumba dan disponsori oleh brand air mineral dan juga brand lainnya, saat itu saya di wajibkan menggunakan kaos yang diberikan oleh panitia mulai dari acara berlangsung sampai selesai wajib di pakai dan tak boleh dilepas. Mungkin itu salah satu bentuk mereka untuk memperkenalkan produk dari brand itu. Dengan memangkaskan budged yang mereka punya cukup mencetak kaos sudah deh dapat sisi promosinya. Jika mereka menggunakan baleho atau spanduk biaya nya besar belum lagi pajak perhari yang harus dibayarkan. Maka dari itu pada audisi bulutangkis pun sama hal nya anak wajib memakai kaos yang sudah panitia berikan. Ditambah lagi ada tulisan brand tersebut dengan huruf yang besar, font dan warna yang sama dengan merek rokok yang kita tahulah brand ini memiliki nama cukup besar di Indonesia.

Mungkin di mata mereka tidak ada yang salah dan ini hal yang wajar. Saya memberikan fasilitas untuk anak-anak yang memiliki bakat bulutangkis terbaik yang siapa tahu nantinya bisa mengharumkan nama bangsa Indonesia. Kita tahu bahwa sudah banyak atlet atlet terbaik yang namanya sudah tak asing lagi di kanca nasional maupun internasional. Mereka menjadi atlet peraih penghargaan dan sudah banyak mencetak angka terbanyak.

Namun menurut saya bagaimana dengan nasib anak-anak yang tak lolos dari audisi bulutangkis ini? Takutnya mereka sewaktu-waktu jika sudah tumbuh remaja dan dewasa apakah pastinya akan tak mencoba untuk menghisap rokok?



Lisda Sundari, pendiri Yayasan Lentera Anak, kemarin menjelaskan dan menerangkan sangat sedih juga saya ketika melihat audisi bulutangkis yang terselubung adanya campaign promosi didalamnya. Di dalam stadion, luar jalan, kaos yang dipakai untuk anak-anak, dan semua lokasi juga spanduk dan baleho berisi iklan rokok. Semua font dan warna tampil ciri khas brand rokok.

Dalam hati saya berkata apa ga bisa ya, cukup di baleho saja dan spanduk itu juga kan sudah cukup untuk mempromosikan produknya. Lalu mengapa harus menggunakan anak untuk media iklan. Bisa dong tulisannya dikecilin ditaruh disebelah kanan bawah kaos atau kiri atau samping lengan atau di belakang. Kalau memang niat memberikan kontribusi besar dan bermanfaat untuk anak-anak Indonesia tak perlu pajang merek di kaos yang anak akan pakai. Cukup spanduk saja juga orang-orang sudah tahu dan paham audisi bulutangkis ini dari mana dan digelar oleh siapa.

Kembali lagi ke diri masing-masing orangtua ketika ada sebuah kesempatan dan ini hanya satu tahun sekali dan belum tentu bisa diulang kembali rasanya memang melihat ajang audisi bulutangkis dan apalagi ketika nama anak terpilih dan lolos ke tahap selanjutnya dan menerima sebuah beasiswa dari brand tersebut, pasti setiap orangtua siapa sih yang tak mau anaknya dapat berprestasi dan membanggakan orangtua.

Namun, disinilah kelemahan kita sebagai orangtua memang bisa memberikan contoh yang baik untuk anak-anaknya dengan ambil saja beasiswanya namun untuk coba merokok atau menghisap rokok jangan sampai. Tetap saja sih dengan keteladanan saja saya rasa itu kurang untuk memberikan pedoman kuat untuk anak agar mampu mempertahankan pola hidup sehat.


Kalau tujuannya bukan untuk ajang promosi bisalah pada tahun 2019 ini jika diadakan audisi bulutangkis nama kegiatannya bisa diganti dengan yang lain mungkin bisa kita usulkan “ Audisi Beasiswa Bulutangkis” atau “Audisi Badminton IND 2019” tuh kaya gitu kan cakep ya tanpa harus ada merek rokoknya.

Lihat ajang kompetisi olahraga di luar negara saja juga banyak tuh beberapa sponsor ada namun tak memakai nama brandnya. Karena tanpa gunakan nama merek pada kegiatan olahraga dan juga audisi cukup spanduk dan baleho saja juga semua masyarakat akan tahu kok ini dari mana dan penyelenggaranya siapa. Bukankah sama dengan saat kita memberikan uang ke dalam kotak amal cukup tangan kanan saja yang beri sedangkan tangan kiri tak perlu. Dalam artian otranglain tak perlu tahu kita sedekah dengan nilai berapa. Pada kenyataanya apa yang kita tuai di dunia ini selama itu bermanfaat dan memberikan nilai posistif untuk banyak orang saya yakin ALLAH akan membalas semua kebaikan kita. Jika di dunia belum mungkin saja nanti di akhirat.



Liza Djaprie, psikolog mengatakan saat bertemu di gathering blogger kemarin juga menuturkan bahwasannya otak anak seperti spons. Mampu menyerap semua informasi yang diterima sesuai yang tersampaikan. Sehingga jika rokok dipersepsikan sebagai bulutangkis maka sama halnya mereka menyerap brand rokok ini sebagai pemberi beasiswa.
 

Tulisan Ibu dari anak cerebral palsy - khairunnisa Template by Ipietoon Cute Blog Design